Syeikh Muda Muhammad Harun, M.Ec.Dev.: Bukan Jodoh atau Rezeki yang Membuat Manusia Gelisah, tetapi Hati yang Lupa kepada Allah
Jakarta, Nuonline.or.id – Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi persaingan status sosial, kekayaan, jabatan, dan pengakuan, banyak orang menganggap kebahagiaan ditentukan oleh besarnya harta, tingginya karier, atau cepatnya dipertemukan dengan jodoh. Namun, menurut Syeikh Muda Muhammad Harun, M.Ec.Dev., kegelisahan terbesar manusia sesungguhnya bukan terletak pada apa yang belum dimiliki, melainkan ketika hati mulai jauh dari Allah SWT.
Dalam wawancara khusus bersama redaksi, ia mengatakan bahwa manusia sering kali terlalu sibuk mengejar urusan dunia hingga lupa memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta. Padahal, ketika hati telah mengenal Allah, cara seseorang memandang rezeki, jodoh, jabatan, bahkan ujian hidup akan berubah.
"Banyak orang berpikir bahwa kalau rezekinya bertambah, hidupnya pasti tenang. Kalau jodohnya datang, semua masalah selesai. Padahal ketenangan bukan berasal dari dunia, melainkan dari hati yang dekat kepada Allah."
Menurutnya, salah satu akar kegelisahan manusia adalah merasa bahwa dirinya mampu mengendalikan segala sesuatu, sehingga lupa bahwa seluruh kehidupan berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Ia kemudian mengutip firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
Yā ayyuhan-nāsu antumul-fuqarā'u ilallāh, wallāhu huwal-ghaniyyul-ḥamīd.
"Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji." (QS. Fatir: 15).
Menurutnya, ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang selalu bergantung kepada Allah.
"Kalau kita menyadari bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah, maka tidak ada alasan untuk sombong ketika diberi kelebihan, dan tidak ada alasan untuk putus asa ketika sedang diuji."
Jodoh Bukan Sekadar Tentang Menemukan, tetapi Mensyukuri
Dalam kesempatan tersebut, Syeikh Muda Muhammad Harun juga menyoroti cara pandang masyarakat terhadap jodoh. Menurutnya, banyak orang terlalu sibuk mencari pasangan yang dianggap sempurna, tetapi lupa mempersiapkan dirinya menjadi pribadi yang baik.
"Banyak orang berdoa agar dipertemukan dengan jodoh yang saleh atau salehah. Namun setelah Allah mempertemukannya dengan pasangan, justru sibuk membandingkan kehidupan rumah tangganya dengan kehidupan orang lain. Padahal yang perlu diperbaiki sering kali bukan pasangan kita, tetapi hati kita sendiri."
Ia menjelaskan bahwa jodoh merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT. Karena itu, setiap ikhtiar harus dibarengi dengan rasa syukur dan tawakal.
"Jangan hanya bertanya, 'Kapan saya mendapatkan jodoh?' Tetapi bertanyalah juga, 'Apakah saya sudah pantas menjadi pasangan yang baik?' Muhasabah selalu lebih penting daripada sibuk menilai kekurangan orang lain."
Menurutnya, media sosial juga membuat banyak orang kehilangan rasa syukur karena terlalu sering membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.
"Tidak ada rumah tangga yang sempurna. Yang membuat sebuah keluarga bertahan bukan karena tidak memiliki masalah, tetapi karena suami dan istri sama-sama belajar bersabar, saling memaafkan, dan mensyukuri apa yang Allah berikan."
Kesombongan Berasal dari Hati yang Lupa Bersyukur
Ia juga mengingatkan bahwa kesombongan bukan hanya tampak dari ucapan atau penampilan, tetapi bermula dari hati yang merasa lebih baik daripada orang lain.
Untuk menjelaskan hal tersebut, ia mengutip sabda Rasulullah SAW:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Lā yadkhulul-jannata man kāna fī qalbihī mitsqālu dzarratin min kibr.
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji zarrah." (HR. Muslim No. 91).
Menurutnya, seseorang yang semakin mengenal Allah justru akan semakin rendah hati.
"Orang yang mengenal Allah tidak akan sibuk merasa dirinya lebih mulia daripada orang lain. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia sadar bahwa semua kelebihan hanyalah amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban."
Ia menambahkan bahwa kekayaan, jabatan, ilmu, maupun popularitas bukanlah ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah. Semua itu hanyalah sarana untuk berbuat kebaikan apabila digunakan dengan benar.
Dunia Adalah Amanah, Bukan Tujuan Akhir
Menutup wawancara, Syeikh Muda Muhammad Harun mengajak masyarakat untuk lebih banyak melakukan muhasabah daripada sibuk membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
"Kalau ingin hidup tenang, jangan sibuk menghitung nikmat orang lain. Hitunglah nikmat Allah yang sudah diberikan kepada kita. Ketika hati dipenuhi syukur, kita akan lebih mudah menerima ketetapan Allah, menjaga pasangan yang telah Allah amanahkan, menghormati sesama, dan menjalani hidup dengan penuh ketenangan."
Menurutnya, kebahagiaan sejati tidak diukur dari seberapa banyak yang dimiliki seseorang, melainkan dari seberapa dekat hatinya kepada Allah SWT. Ketika hati dipenuhi iman, rasa syukur, dan tawakal, maka rezeki, jodoh, maupun berbagai ujian kehidupan akan dipandang sebagai bagian dari kasih sayang Allah yang mengantarkan manusia menuju kedewasaan spiritual.
Tentang Narasumber
Syeikh Muda Muhammad Harun, M.Ec.Dev., yang juga dikenal melalui nama pena Andika Pujangkoro, merupakan seorang dai yang aktif menyampaikan kajian tasawuf, akhlak, dan tazkiyatun nafs melalui komunitas Pondopo Roso Langit di Banten.
Di samping aktivitas dakwahnya, ia juga merupakan Founder Grapadi International, perusahaan yang bergerak di bidang Strategic Business Advisory, serta Founder Survey Center Indonesia, lembaga yang berfokus pada market research, survei, dan analisis perilaku masyarakat. Melalui kedua institusi tersebut, ia turut mendorong pengambilan keputusan yang lebih terarah melalui pendekatan riset, analisis, dan strategi.
Bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih jauh mengenai pemikiran, aktivitas dakwah, maupun tulisan-tulisannya seputar Islam, tasawuf, kepemimpinan, ekonomi, dan pengembangan diri, dapat mengunjungi AndikaTalk di https://www.andikatalk.id.


