Tips Menyelesaikan Transkrip Wawancara Skripsi bagi Mahasiswa yang Padat Kegiatan

Nuonline.or.id - Memasuki semester akhir, mahasiswa yang menjalani penelitian lapangan sering berhadapan dengan masalah yang sama: rekaman wawancara menumpuk di ponsel. Ada wawancara dengan pengasuh pesantren, keterangan dari pengurus takmir, cerita warga tentang tradisi yang sedang diteliti, hingga hasil diskusi kelompok bersama para santri.

Data sebenarnya sudah terkumpul. Hanya saja, semuanya masih dalam bentuk rekaman suara. Sementara itu, pembimbing membutuhkan transkrip verbatim dalam bentuk teks untuk dilampirkan sebagai bukti keabsahan data.

Di sinilah banyak yang tertahan. Mengetik ulang satu jam rekaman memerlukan sekitar lima sampai tujuh jam. Apabila informannya enam orang, hitungannya sudah melampaui tiga puluh jam, dan waktu sebanyak itu harus bersaing dengan jadwal ngaji, kewajiban mengajar diniyah, serta kegiatan organisasi. Tidak sedikit yang akhirnya menunda hingga berbulan-bulan.

Padahal penundaan pada tahap ini menimbulkan kerugian berlapis. Ingatan atas suasana wawancara memudar, catatan lapangan kehilangan konteksnya, dan ketika akhirnya dikerjakan menjelang tenggat, hasilnya cenderung seadanya.

Tahap yang paling melelahkan tersebut kini dapat dipersingkat. Layanan pengenal suara berbahasa Indonesia seperti Verbatim AI mengubah rekaman satu jam menjadi draf teks dalam tiga sampai lima menit, disertai penanda waktu dan penandaan pergantian pembicara. Pesan suara WhatsApp pun dapat langsung diproses. Yang tersisa bagi mahasiswa tinggal memeriksa dan membetulkan.

Justru bagian pemeriksaan inilah yang tidak boleh diserahkan kepada mesin. Lafal Arab, nama kitab, istilah pesantren, serta nama tokoh termasuk yang paling sering keliru tertulis. Apabila transkrip memuat pandangan seorang kiai, kekeliruan satu kata saja berpotensi mengubah maksudnya.

Perlu diperhatikan pula, penelitian kualitatif menuntut mode verbatim, bukan teks yang telah dirapikan. Jeda, pengulangan, dan keraguan informan merupakan bagian dari data. Notasi yang lazim dipakai adalah [jeda 2.4d] dan [tertawa], dengan label P untuk pewawancara serta I1 dan I2 untuk informan. Perbedaan kedua mode tersebut beserta contoh tata letak lampirannya diuraikan dalam panduan AI transkripsi wawancara.

Beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum merekam

  • Meminta izin terlebih dahulu dan menjelaskan bahwa rekaman akan diketik untuk keperluan skripsi.

  • Menyebutkan nama informan, tanggal, dan lokasi pada awal rekaman.

  • Meletakkan perekam di antara pewawancara dan informan, bukan di dalam saku.

  • Menghindari perekaman di dekat kipas atau pengeras suara yang mendengung.

  • Meminta informan mengeja sekali nama kitab atau istilah yang jarang terdengar.

Mengenai kebolehannya, sebagian besar perguruan tinggi mengizinkan alat bantu semacam ini sepanjang mahasiswa memverifikasi sendiri hasilnya dan bertanggung jawab atas keakuratan data. Alat tersebut membantu menyalin, bukan menggantikan tugas peneliti untuk memahami. Bila pembimbing memiliki ketentuan khusus, sebaiknya ditanyakan sejak awal.

Pada akhirnya, teknologi hanya membantu meringankan pekerjaan, bukan menggantikan tanggung jawab peneliti. Setiap orang yang bersedia meluangkan waktu untuk bercerita telah mempercayakan bagian dari pengalamannya kepada kita. Karena itu, menjaga kepercayaan tersebut dengan menuliskannya secara jujur dan tetap mempertahankan konteksnya merupakan bagian penting dari tanggung jawab seorang peneliti.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url